Fajarinfoonline.com,”Bandar Lampung – Tak pernah terbayang oleh Safrizal (49), seorang pengemudi ojek online, bahwa putranya, Adz Rizqi (19), akan menjadi seorang polisi. Niat awal Rizqi hanyalah bekerja sebagai sekuriti setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Namun, takdir berkata lain.
Kabar kelulusan Rizqi sebagai Bintara Polri di Polda Lampung gelombang kedua disambut haru oleh keluarganya. Begitu mendengar pengumuman, Safrizal segera menghentikan pekerjaannya dan memacu sepeda motor menuju lokasi pengumuman. Sesampainya di sana, ia langsung memeluk erat putranya, tak kuasa menahan tangis haru.
Orangtua Sederhana, Anak Jadi Polisi
Rizqi bukan berasal dari keluarga yang berkecimpung di dunia kepolisian. Sang ayah, Safrizal, bekerja sebagai pengemudi ojek online, sementara ibunya, Rosidah (48), berjualan pecel di kontrakan mereka di Jalan M Bangsawan, RT 05/LK1, Sepang Jaya, Kecamatan Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Tak pernah terlintas dalam benak mereka bahwa anak kedua dari tiga bersaudara ini akan meniti karier sebagai abdi negara. “Benar-benar enggak nyangka. Saya ini cuma driver ojol, enggak punya uang banyak. Tapi ternyata anak saya bisa lulus tanpa bayar sepeserpun,” ujar Safrizal terharu.
Dijebak Tes Sekuriti, Berakhir di Akademi Polisi
Awalnya, Rizqi tak berminat menjadi polisi. Setelah lulus SMK, ia berencana merantau ke Jakarta untuk bekerja di pabrik. Suatu hari, Safrizal berbincang dengan temannya yang merupakan anggota Polresta Bandar Lampung. Dari obrolan itu, sang anggota polisi menyarankan agar Rizqi mencoba menjadi sekuriti jika memang tidak tertarik masuk kepolisian.
Tanpa disadari, ajakan itu adalah strategi agar Rizqi menjalani latihan fisik yang lebih serius. Selama dua bulan, ia dilatih fisik secara mandiri, termasuk les renang dan fitness. Semua biaya ditanggung oleh anggota polisi tersebut, bahkan ia diberikan asupan susu untuk memperkuat fisiknya.
Setelah tubuhnya mulai terlatih, Rizqi akhirnya diberi dorongan untuk mencoba seleksi Bintara Polri. Awalnya ragu, namun dengan tekad membantu keluarganya, ia memberanikan diri mendaftar. Tahapan seleksi yang panjang dan berat pun dijalaninya seorang diri. Dari 13 tahapan tes, ia berusaha keras hingga akhirnya dinyatakan lulus.
Motivasi untuk Keluarga
Rizqi mengakui bahwa perjalanan menjadi seorang Bintara Polri tidak mudah. Ia sempat merasa putus asa, terutama karena harus melewati semua tahapan seleksi tanpa pendampingan orangtua. Namun, tekadnya untuk mengangkat derajat keluarga menjadi sumber kekuatannya.
“Enggak pernah kepikiran jadi polisi sih. Cuma karena kondisi keluarga begini, saya ingin membantu orangtua,” ujar Rizqi.
Kini, berkat kegigihannya, anak seorang driver ojol dan penjual pecel itu berhasil meraih impiannya yang dulu bahkan tak pernah ia pikirkan. Kelulusannya menjadi Bintara Polri bukan hanya kebanggaan bagi keluarga, tetapi juga inspirasi bagi banyak orang bahwa tekad dan usaha bisa mengubah nasib.
