
Jakarta — Andil Jamal Kamaruddin Daeng Massiga atau yang lebih dikenal dengan Om Betel, Panglima Besar Pasukang Adat Nusantara Indonesia, kembali menjadi sorotan publik setelah tampil LIVE dan menyampaikan protes keras terkait isu dugaan “Scan Jasa Jokowi” yang belakangan ramai diperbincangkan di berbagai platform digital.
Dalam siaran langsung tersebut, Om Betel menegaskan bahwa ia merasa keberatan dan menilai adanya penyalahgunaan identitas maupun jasa tokoh bangsa, termasuk Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), yang dikaitkan dengan sejumlah aktivitas digital yang dianggap tidak benar dan menyesatkan.
“Kami menolak keras segala bentuk pemanfaatan nama dan jasa Jokowi untuk tujuan yang tidak jelas apalagi merugikan masyarakat. Ini harus dihentikan,” tegas Om Betel dalam siaran live itu.
Menurutnya, tindakan pencatutan nama tokoh nasional dan pemimpin negara merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima, baik secara adat maupun secara hukum. Ia menyebut bahwa Pasukang Adat Nusantara Indonesia berdiri untuk menjaga kehormatan adat, tokoh masyarakat, hingga simbol-simbol negara agar tidak digunakan secara sembarangan.
Om Betel juga mengajak masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menerima informasi, terutama yang menggunakan nama tokoh besar atau organisasi tertentu tanpa dasar jelas. Ia menekankan pentingnya verifikasi dan edukasi digital agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi menyesatkan.
“Masyarakat harus lebih cerdas. Jangan mudah percaya sebelum memeriksa sumbernya. Banyak yang menggunakan nama tokoh untuk kepentingan tertentu,” lanjutnya.
Hingga kini, protes yang disampaikan Om Betel terus menjadi perbincangan netizen. Banyak yang mendukung sikap tegasnya, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan detail isu “Scan Jasa Jokowi” yang belum sepenuhnya dipahami publik.
Pasukang Adat Nusantara Indonesia dikenal sebagai organisasi adat yang aktif menyuarakan isu-isu budaya, sosial, dan kebangsaan, termasuk mengawal marwah adat di tengah perkembangan era digital.
Perkembangan terkait pernyataan Om Betel ini masih terus dipantau dan menjadi perhatian berbagai pihak.
Tim Kantor Media Bersama Makassar