
Jakarta : Wacana perombakan atau reshuffle kabinet selalu menjadi ruang spekulasi yang menarik dalam dinamika politik Indonesia. Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, isu reshuffle bukan sekadar pergantian nama di kursi kementerian, tetapi juga menyangkut arah kebijakan, konsolidasi kekuatan politik, serta kebutuhan menghadirkan figur-figur profesional yang mampu menjawab tantangan zaman. Dalam konteks inilah nama Dr. Iswadi, M.Pd mulai diperbincangkan sebagai salah satu sosok yang dinilai berpeluang masuk radar reshuffle kabinet.
Dr. Iswadi dikenal sebagai akademisi dan pengamat pendidikan yang aktif menyuarakan berbagai gagasan pembaruan di sektor pendidikan dan kebijakan publik. Latar belakangnya sebagai doktor di bidang pendidikan memberikan fondasi kuat dalam memahami problem struktural dunia pendidikan Indonesia mulai dari ketimpangan akses, kualitas guru, hingga tantangan transformasi digital. Dalam berbagai forum diskusi, ia kerap menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan riil masyarakat di akar rumput.
Jika dikaitkan dengan arah pemerintahan Prabowo yang menekankan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas nasional, maka figur seperti Dr. Iswadi memiliki relevansi strategis. Pemerintahan baru membutuhkan kombinasi antara loyalitas politik, kapasitas teknokratis, dan rekam jejak intelektual. Dalam hal kapasitas akademik dan pengalaman di bidang pendidikan, Dr. Iswadi dinilai memenuhi salah satu kriteria penting tersebut.
Namun, masuknya seseorang ke dalam kabinet bukan semata soal kompetensi. Dinamika politik, keseimbangan koalisi, serta representasi kelompok dan daerah juga menjadi faktor penentu. Presiden Prabowo tentu mempertimbangkan stabilitas koalisi pendukungnya. Jika reshuffle dilakukan, bisa jadi tujuannya adalah memperkuat soliditas internal sekaligus meningkatkan kinerja kementerian yang dinilai belum optimal. Dalam skenario ini, figur profesional non-partai seperti Dr. Iswadi berpotensi menjadi opsi kompromi tidak terlalu sarat muatan politik, tetapi memiliki legitimasi akademik.
Selain itu, publik saat ini semakin kritis terhadap komposisi kabinet. Harapan terhadap pemerintahan Prabowo cukup besar, terutama dalam mewujudkan pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional. Jika reshuffle diarahkan untuk mempercepat reformasi sektor pendidikan, maka kehadiran figur yang memiliki rekam jejak pemikiran dan advokasi pendidikan akan menjadi nilai tambah. Dr. Iswadi, dengan reputasinya sebagai pengamat yang konsisten menyuarakan perbaikan sistem, dapat diposisikan sebagai representasi kalangan akademisi dalam lingkar kekuasaan.
Meski demikian, peluang tersebut tetap berada dalam ranah spekulasi. Hingga kini belum ada sinyal resmi mengenai posisi apa yang akan dirombak atau siapa saja yang masuk dalam daftar evaluasi. Dalam tradisi politik Indonesia, reshuffle sering kali dilakukan secara mendadak dan penuh kejutan. Presiden memiliki hak prerogatif penuh untuk menentukan siapa yang dipertahankan dan siapa yang diganti.
Menariknya, figur seperti Dr. Iswadi juga membawa citra relatif bersih dari konflik politik praktis. Dalam situasi di mana publik menginginkan kabinet yang profesional dan minim kontroversi, citra ini bisa menjadi modal penting. Pemerintahan Prabowo akan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stabilitas ekonomi global, penguatan industri nasional, hingga reformasi birokrasi. Semua itu membutuhkan tim yang solid dan kompeten.
Di sisi lain, tantangan terbesar bagi figur dari luar lingkar elite politik adalah membangun jaringan dan dukungan internal di pemerintahan. Kemampuan manajerial dan komunikasi politik menjadi faktor krusial. Jika memang masuk dalam radar reshuffle, Dr. Iswadi perlu menunjukkan bahwa dirinya tidak hanya kuat secara konseptual, tetapi juga mampu mengeksekusi kebijakan dalam sistem birokrasi yang kompleks.
Pada akhirnya, peluang Dr. Iswadi, M.Pd masuk dalam radar reshuffle kabinet Prabowo mencerminkan dinamika harapan publik terhadap figur-figur profesional. Apakah spekulasi ini akan menjadi kenyataan, sangat bergantung pada kalkulasi politik dan kebutuhan strategis presiden. Namun satu hal yang pasti, wacana ini menunjukkan bahwa ruang partisipasi akademisi dalam pemerintahan tetap terbuka, terutama ketika negara membutuhkan gagasan segar dan komitmen terhadap pembangunan jangka panjang.
Reshuffle bukan sekadar pergantian nama, melainkan momentum pembenahan. Jika pemerintahan Prabowo Subianto benar-benar ingin memperkuat sektor pendidikan dan pembangunan manusia, maka figur seperti Dr. Iswadi dapat menjadi bagian dari opsi yang layak dipertimbangkan. Di tengah dinamika politik yang terus bergerak, publik menanti apakah nama tersebut benar-benar akan muncul dalam daftar resmi, atau tetap menjadi bagian dari spekulasi yang menghiasi panggung politik nasional.
OMBINTANG (Asdar Akbar); Pelopor Berdirinya Forum Diskusi Aliansi Gerakan Mahasiswa Mencermati Issu Strategi Pro Demokrasi Tanpa Bentuk Anak Kampung Masuk Kota; Relawan Pilpres 2024/Tim Media Sosial Dr. Iswadi, M.Pd, Jakarta
