
LUWU UTARA – Pembangunan infrastruktur pengendali banjir Sungai Baliase di Desa Pongo, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, menunjukkan progres signifikan. Hingga saat ini, realisasi pekerjaan fisik dilaporkan telah mencapai 93 persen.
Capaian tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi masyarakat setempat yang selama ini menghadapi ancaman banjir tahunan, abrasi, hingga gerusan arus sungai yang berpotensi merusak permukiman dan lahan produktif warga.
Pembangunan infrastruktur ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat perlindungan kawasan rawan banjir sekaligus mengurangi risiko bencana akibat luapan Sungai Baliase.
Percepatan proyek tersebut tidak terlepas dari sinergi Kementerian Pekerjaan Umum (PU), DPR RI, serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang bersama jajaran Satuan Kerja (Satker) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
Sinergi Pusat dan Daerah Dorong Percepatan Pembangunan
Dukungan kebijakan dan penganggaran melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan pembangunan tersebut.
Menteri Pekerjaan Umum Doddy Hanggodo bersama Anggota DPR RI Andi Irwan Darmawan Aras serta jajaran BBWS Pompengan Jeneberang disebut memiliki peran dalam mendorong kebijakan strategis pembangunan infrastruktur sumber daya air di wilayah Sulawesi Selatan.
Sementara itu, pelaksanaan teknis di lapangan ditangani oleh tim PPK Sungai dan Pantai II.
Pengawasan secara berkala juga dilakukan guna memastikan pekerjaan berjalan sesuai perencanaan, memenuhi spesifikasi teknis, serta memperhatikan kualitas konstruksi.
Tiga Fokus Utama Pekerjaan
Dalam pelaksanaannya, pembangunan pengendali banjir Sungai Baliase mencakup tiga pekerjaan utama.
Pertama, perkuatan tebing sungai sepanjang 0,5 kilometer untuk mengantisipasi abrasi dan longsoran akibat derasnya arus air.
Kedua, pembangunan tanggul tanah sepanjang 0,3 kilometer sebagai perlindungan terhadap potensi limpasan air yang dapat menggenangi kawasan permukiman.
Ketiga, normalisasi sungai sepanjang 0,2 kilometer untuk meningkatkan kapasitas tampung aliran sungai sekaligus memperlancar aliran debit air.
Ketiga pekerjaan tersebut dirancang sebagai satu kesatuan sistem pengendalian banjir guna mengurangi potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh luapan Sungai Baliase.
Lindungi Permukiman dan Lahan Pertanian Warga
Keberadaan infrastruktur pengendali banjir ini diharapkan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Desa Pongo dan wilayah sekitarnya.
Selain melindungi kawasan permukiman serta fasilitas umum, pembangunan tersebut juga diharapkan mampu mengamankan lahan persawahan dan perkebunan masyarakat yang selama ini rentan terdampak banjir.
Dengan perlindungan yang lebih baik, masyarakat diharapkan dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa terus dihantui kekhawatiran terhadap ancaman luapan sungai, terutama ketika intensitas hujan meningkat.
Menuju Penyelesaian 100 Persen
Dengan progres pekerjaan yang telah mencapai 93 persen, pembangunan pengendali banjir Sungai Baliase kini memasuki tahap akhir penyelesaian.
Masyarakat tentu berharap sisa pekerjaan dapat dituntaskan tepat waktu dengan tetap mengutamakan kualitas konstruksi dan standar keselamatan.
Tidak hanya mengejar target penyelesaian fisik, pemeliharaan infrastruktur setelah proyek rampung juga menjadi aspek penting agar fungsi pengendalian banjir dapat bertahan dalam jangka panjang.
Pembangunan ini diharapkan menjadi bukti nyata sinergi pemerintah pusat, legislatif, dan jajaran teknis dalam menghadirkan infrastruktur yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan keamanan dan ketahanan wilayah Kabupaten Luwu Utara terhadap ancaman banjir.






