
Jakarta— Peta kekuatan ekonomi Indonesia menunjukkan pergeseran signifikan. Jika selama puluhan tahun nama “9 Naga” identik dengan dominasi konglomerat nasional berbasis Jakarta, kini muncul kekuatan baru yang dijuluki “9 Haji”—para pengusaha daerah yang menguasai sektor-sektor strategis berbasis sumber daya alam dan ekonomi regional.
Fenomena ini menandai desentralisasi kekuatan ekonomi, di mana pusat pertumbuhan tidak lagi terkonsentrasi di Pulau Jawa, melainkan menyebar ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, hingga Maluku Utara.
Ekonomi Daerah Bangkit, Pengusaha Lokal Menguat
Kelompok 9 Haji dikenal sebagai pengusaha dengan akar lokal yang kuat, mengembangkan bisnis dari daerah dengan memanfaatkan potensi tambang, perkebunan, energi, otomotif, dan infrastruktur. Keunggulan mereka terletak pada kedekatan dengan komunitas lokal, penciptaan lapangan kerja, serta kontribusi langsung terhadap pembangunan daerah.
Nama-nama seperti Haji Isam dari Kalimantan Selatan dan Hadji Kalla dari Sulawesi menjadi simbol keberhasilan model bisnis berbasis daerah yang mampu bersaing di level nasional.
Deretan Tokoh “9 Haji” Penguasa Ekonomi Regional
Haji Isam (Kalimantan Selatan)
Pendiri Jhonlin Group ini memulai karier sebagai sopir truk kayu. Kini, ia mengendalikan bisnis batubara, biodiesel, kelapa sawit, pelabuhan, hingga penerbangan pribadi. Jhonlin Group menjadi salah satu kekuatan industri terbesar di luar Jawa.
Hadji Kalla (Sulawesi)
Kalla Group, yang berakar sejak 1952, menguasai distribusi otomotif dan energi di Indonesia Timur. Perpaduan manajemen modern dan nilai kearifan lokal menjadi ciri khas grup ini.
Haji Aksa Mahmud (Bosowa Group)
Berawal dari usaha es balok, Bosowa Group kini menguasai sektor semen, otomotif, hingga infrastruktur strategis seperti Tol Makassar.
Haji Rasyid (Kalimantan Tengah)
Lewat Citra Borneo Indah Group, ia mengelola lebih dari 100 ribu hektar perkebunan sawit. Meski sempat diterpa kontroversi, perannya dalam membuka lapangan kerja dan kegiatan filantropi tetap menonjol.
Haji Leman (Hasnur Group)
Almarhum Abdussamad Sulaiman HB membangun Hasnur Group yang bergerak di batubara, pelayaran, dan olahraga. Regenerasi bisnis keluarga berjalan solid hingga anak-anaknya mengembangkan unit usaha secara mandiri.
Haji Ijai (Tapin, Kalsel)
Raja batubara dengan produksi jutaan ton per bulan ini dikenal dengan gaya hidup mewah, namun menjadi motor ekonomi lokal di wilayah Tapin dan sekitarnya.
Haji Anif (Sumatera Utara)
Anif Shah sukses membangun kerajaan sawit dan properti, termasuk kawasan Cemara Asri di Medan, serta bertahan dari krisis CPO dengan strategi diversifikasi bisnis.
Haji Robert (Maluku Utara)
Menguasai tambang emas Gosowong melalui PT Nusa Halmahera Minerals, Haji Robert dikenal aktif dalam program sosial dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Haji Ciut (Kalimantan Selatan)
Sosok “crazy rich” yang viral ini mengelola bisnis batubara dan properti berskala besar, dengan kontribusi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja daerah.
9 Haji vs 9 Naga: Babak Baru Oligarki Ekonomi
Berbeda dengan 9 Naga yang dominan di sektor finansial, perbankan, dan bisnis nasional berbasis Jakarta, 9 Haji bertumpu pada penguasaan sumber daya alam dan ekonomi regional. Mereka tumbuh dari daerah, membangun daerah, dan memperkuat posisi daerah dalam perekonomian nasional.
Kebangkitan 9 Haji menjadi indikator bahwa oligarki ekonomi Indonesia tidak lagi tunggal, melainkan mulai terfragmentasi ke wilayah-wilayah strategis di luar pusat kekuasaan lama.
Apakah “9 Haji” akan menjadi poros ekonomi baru Indonesia?
Sejarah sedang menuliskan jawabannya.