
GOWA, 16-10-2026 SULAWESI SELATAN — Nama Sultan Arfandi Rahman Dg. Ngemba menjadi salah satu sosok yang disorot dalam perjalanan gerakan Posko Siri’ Na Pacce Gowa. Gerakan ini lahir dari kegelisahan terhadap dinamika yang terjadi di Kabupaten Gowa, sekaligus menjadi wadah bagi masyarakat dan elemen organisasi untuk menghimpun aspirasi serta menyuarakan tuntutan perubahan yang menjadi kegelisahan di kabupaten Gowa .
Sebagai sosok inisiator Posko Siri’ Na Pacce Gowa, Sultan Arfandi Rahman Dg. Ngemba dikenal melalui perannya dalam membangun komunikasi, menghimpun dukungan, dan mendorong keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam gerakan yang membawa semangat keberanian, harga diri, solidaritas, serta kepedulian terhadap kondisi daerah kabupaten Gowa .
*Berawal dari Kegelisahan, Pertemuan di Warkop Sija Pallangga Menjadi Titik Awal*
Perjalanan Posko Siri’ Na Pacce Gowa berawal dari kegelisahan dan kegundahan terhadap berbagai dinamika yang berkembang di Kabupaten Gowa. Situasi tersebut mendorong sejumlah tokoh dan elemen masyarakat untuk membangun komunikasi serta mencari ruang bersama guna menyampaikan aspirasi secara terorganisasi.
Dalam proses tersebut, Sultan Arfandi Rahman Dg. Ngemba bersama Indra Gunawan Dg. Lewa menggelar pertemuan di Warkop Sija, Pallangga, Kabupaten Gowa. Pertemuan itu menjadi bagian penting dari upaya membangun komunikasi dan menghimpun kekuatan bersama dalam merintis gerakan Posko Siri’ Na Pacce Gowa.
Dari komunikasi dan pertemuan tersebut, sejumlah elemen organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan mulai dihimpun untuk terlibat dalam gerakan. Di antaranya OKP Kiwal dan KNPI Gowa, yang disebut turut mengambil bagian dalam dinamika perjuangan Posko Siri’ Na Pacce Gowa.
Keterlibatan berbagai elemen tersebut memperlihatkan bahwa gerakan masyarakat tidak hanya bertumpu pada satu sosok, tetapi juga membutuhkan komunikasi, solidaritas, dan kerja bersama. Peran para penggagas menjadi penting dalam membuka ruang konsolidasi, sedangkan keterlibatan organisasi dan masyarakat menjadi bagian dari dinamika gerakan itu sendiri.
Dengan demikian, pertemuan di Warkop Sija, Pallangga, dapat dicatat sebagai salah satu momentum awal dalam rangkaian konsolidasi yang melatarbelakangi lahir dan berkembangnya Posko Siri’ Na Pacce Gowa.
*Posko Siri’ Na Pacce dan Dinamika Politik Kabupaten Gowa*
Perjalanan gerakan Posko Siri’ Na Pacce Gowa berlangsung di tengah dinamika politik dan pemerintahan daerah yang menjadi perhatian masyarakat yang menumbangkan bupati Gowa Husniah Talenrang.
Dinamika yang berkaitan dengan mantan bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, juga menjadi bagian dari perhatian publik. Namun, proses hukum dan ketatanegaraan terkait jabatan kepala daerah harus dijelaskan berdasarkan dokumen resmi, termasuk putusan lembaga yang berwenang.
Karena itu, untuk menyatakan bahwa gerakan Posko Siri’ Na Pacce Gowa secara langsung menyebabkan pemberhentian atau pemakzulan seorang kepala daerah, diperlukan bukti yang menunjukkan hubungan antara gerakan tersebut dan proses hukum maupun keputusan resmi yang diambil.
Terlepas dari dinamika tersebut, perjalanan Posko Siri’ Na Pacce Gowa dapat menjadi catatan mengenai bagaimana kegelisahan masyarakat berkembang menjadi konsolidasi dan gerakan kolektif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemuda kabupaten Gowa OKP.
*Sultan Arfandi Rahman Dg.Ngemba Sang Inisiator Gerakan Posko siri Nah pacce Gowa*
Dalam perjalanan sebuah gerakan, sosok inisiator memiliki peran penting dalam membuka ruang komunikasi, menyatukan gagasan, serta mendorong berbagai pihak untuk bergerak menuju tujuan bersama.
Sultan Arfandi Rahman Dg. Ngemba, bersama Indra Gunawan Dg. Lewa dan elemen organisasi yang terlibat, menjadi bagian dari kisah konsolidasi Posko Siri’ Na Pacce Gowa sebagaimana dituturkan dalam perjalanan gerakan tersebut.
Kiprah seorang inisiator tidak semata-mata diukur dari keberaniannya menyuarakan kritik, tetapi juga dari kemampuannya membangun persatuan, merawat komunikasi, menjaga ketertiban, dan memastikan perjuangan tetap berjalan dalam koridor hukum.
Di sisi lain, keterlibatan OKP Kiwal Gowa,KNPI Gowa, dan elemen masyarakat lainnya menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam membangun gerakan. Setiap pihak memiliki peran dan kontribusi yang patut dicatat secara proporsional berdasarkan keterlibatan serta bukti.
*Siri’ Na Pacce: Harga Diri, Solidaritas, dan Tanggung Jawab Masyarakat Gowa*
Dalam tradisi Bugis-Makassar, nilai Siri’ Na Pacce erat kaitannya dengan kehormatan, harga diri, solidaritas, kepedulian, serta tanggung jawab sosial.
Nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan bagi gerakan masyarakat Gowa untuk menyampaikan aspirasi secara bermartabat, memperjuangkan kepentingan publik, dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan tanpa mengabaikan ketertiban serta ketentuan hukum.
Bagi gerakan Posko Siri’ Na Pacce Gowa, semangat tersebut dapat dimaknai sebagai dorongan untuk tidak bersikap apatis terhadap persoalan daerah. Masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, mengkritik kebijakan, dan menuntut pertanggungjawaban melalui mekanisme demokrasi yang sah.
Perjuangan yang berlandaskan Siri’ Na Pacce juga menuntut kedewasaan dalam bersikap. Kritik harus disampaikan dengan dasar yang jelas, informasi harus dapat dipertanggungjawabkan, dan setiap langkah perjuangan harus menghormati hak serta martabat orang lain.
*Menjadi Catatan Dalam Perjalanan sejarah Gerakan posko siri nah pacce Masyarakat Gowa*
Kisah Sultan Arfandi Rahman Dg. Ngemba sebagai sosok yang disebut menginisiasi Posko Siri’ Na Pacce Gowa tidak dapat dipisahkan dari kegelisahan yang melatarbelakangi gerakan, pertemuan di Warkop Sija, Pallangga, komunikasi bersama Indra Gunawan Dg. Lewa, serta keterlibatan OKP Kiwal, KNPI Gowa, dan elemen lainnya.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari cerita mengenai bagaimana sebuah gagasan berawal dari pertemuan, berkembang melalui komunikasi, dan memperoleh dukungan melalui keterlibatan berbagai pihak.
Sejarah sebuah gerakan masyarakat Gowa pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang pertama kali menggagasnya, melainkan juga tentang bagaimana gerakan itu dibangun, siapa saja yang terlibat, aspirasi apa yang diperjuangkan, serta sejauh mana prosesnya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Siri’ Na Pacce bukan sekadar slogan. Ia merupakan pengingat bahwa kehormatan harus dijaga, solidaritas harus dirawat, dan perjuangan untuk kepentingan masyarakat harus dijalankan dengan keberanian, integritas, serta tanggung jawab.






