
Fajarinfoonline.com,”Seminar Baja Anti Gempa digelar Garuda Yawata Steel (GYS) dan Indonesian Society of Steel Construction (ISSC) di Hotel Movenpick Surabaya, Kamis (10/07)
“Industri baja nasional lebih baik dari baja impor, cuma tinggal dipoles sedikit lagi dengan regulasi nasional, produk baja kita bisa jadi Tuan Rumah di negeri sendiri,” tegas Waketum ISSC, Rahmat Sulaiman dengan optimis saat membuka acara, mewakili Ketum Budi Harta Winata yang berhalangan hadir.
Seminar dihadiri lebih dari seratus orang partisipan dari ekosistem baja dan konstruksi berbagai kota.
Sedikit banyak giat edukatif ini menandai tonggak penting dalam industri baja Indonesia, karena GYS adalah pabrik baja domestik pertama yang memproduksi IWF/H-beam berkekuatan tinggi tahan gempa.
“Baja Tahan Gempa terkenal karena kekuatan dan daya tahannya yang superior. IWF/H-Beams Tahan Gempa Berkekuatan Tinggi memiliki titik hasil (ukuran kekuatan baja) sebesar 345 MPa, sekitar 40% lebih kuat dibandingkan dengan H-beams standar yang lain di Indonesia,” papar Ariel Tumpal, Technical Advisor GYS saat presentasi.
Menurut Ariel, baja High Tensile tidak hanya memberikan ketahanan seismik yang lebih baik dan keselamatan struktural, tapi juga berkontribusi pada efisiensi biaya dalam konstruksi. Dengan menggunakan baja yang lebih kuat, para pembangun dapat mengurangi jumlah baja yang dibutuhkan, yang mengarah pada penghematan biaya konstruksi hingga 20% sekaligus memastikan proyek selesai tepat waktu.”
Baja tahan gempa ini memenuhi Standar Industri Jepang (JIS) untuk JIS SN490B dan standar American Society for Testing and Materials (ASTM) untuk ASTM A572 Gr.50.
Selain itu, GYS tetap berkomitmen pada keberlanjutan, dengan baja High Tensile berkekuatan tinggi ini diproduksi dari limbah baja daur ulang dan rendah emisi karena proses peleburan dengan teknologi Electric Arc Furnace (EAF).
DR. Ir. Mudji Irmawan, MT.
Ketua HAKI Jatim dan Dosen Institut Tehnologi Surabaya, secara bergantian dengan Prof. Ir. Hidajat Sugihardjo Masiran, MS,
Engineering Civil ITS, memaparkan secara teoritis dan akademis, mengenai ‘Pemakaian Baja Mutu Tinggi Untuk Struktur Bangunan Baja’.
Sesi berikutnya,
Lilik Mas’udah kostumer dari PT. Usaha Bakti Perkasa, menerangkan Baja Anti Gempa memiliki Dekarbonisasi Konstruksi. Yakni proses emisi karbon dioksida (CO²) yang dihasilkan dari seluruh penggunaan baja dalam proyek konstruksi, mulai dari ekstraksi bahan baku, produksi baja, transportasi, hingga daur ulang material. “Hal itu bisa menurunkan biaya operasional, mendorong inovasi tehnologi dan meningkatkan daya saing,” tandasnya.
Saat santap siang di akhir acara, peserta berbaur dan berbincang bersilaturahmi menjalin sinergi membuka peluang untuk berkolaborasi.
Tetap Semangat Baja. 🔥
nl~